Rabu, 11 November 2009

MBS 2

BAB I
PENDAHULUAN

Sistem manajemen pendidikan yang sentralisasi telah terbukti tidak membawa kemajuan yang berarti bagi peningkatan kualitas pendidikan pada umumnya. bahkan, dalam kasus-kasus tertentu, manajemen yang sentralistik telah menyebabkan terjadinya pemandulan kreativitas pada satuan pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan. untuk mengatasi terjadinya stagnasi di bidang pendidikan ini diperlukan adanya paradigma baru di bidang pendidikan.
Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, seperti peningkatan kualitas guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana prasarana, dan lain-lain, namun berbagai indikator mutu pendidikan belum memperlihatkan peningkatan yang berarti.
School based management (MBS) merupakan salah satu upaya untuk mengatasi masalah pendidikan di Indonesia khususnya mengenai mutu pendidikan yang dilakukan melalui otonomi dan keputusan partisipatif, dimana sekolah/madrasah dapat lebih bertanggungjawab terhadap mutu (prestasi akademik/kognitif, maupun non akademik/afektif dan psikomotor). MBS merupakan tanggapan terhadap tuntutan perkembangan ilmu, siswa dan kehidupan masyarakat yang lebih demokratis. Dari segi efisiensi, MBS memungkinkan sekolah/madrasah memiliki otonomi dalam mengelola sumber daya dan dana sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sekolahnya. Dari segi pemerataan, MBS memungkinkan tiap sekolah/madrasah mendapat kesempatan untuk mengelola sekolah/madrasah masing-masing dalam upaya meningkatkan mutu pendidikannya.






BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN SCHOOL BASED MANAGEMENT
1. Pengertian Management
Management mengandung arti optimalisasi sumber-sumber daya atau pengelolaan dan pengendalian.
Management (managing) is the process of seeking cosired outcomes by utilizing the available resources and influencing the human relationships of the organization.
2. Pengertian School Based Management
School Based Management merupakan model management yang memberikan otonomi lebih besar kepada kepala sekolah/madrasah dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya perbaikan kinerja sekolah yang mencakup guru, siswa, orangtua, dan masyarakat. Management berbasis sekolah mengubah sistem pengambilan keputusan dengan memindahkan otoritas dalam pengambilan keputusan dan manajemen ke setiap yang berkepentingan di tingkat lokal(local stakeholders).
School-based management (SBM) is the decentralization of levels of authority to the school level. Responsibility and decision-making over school operations is transferred to principals, teachers, parents, sometimes students, and other school community members. The school-level actors, however, have to conform to, or operate, within a set of centrally determined policies.

B. TUJUAN SCHOOL BASED MANAGEMENT
School based management (MBS) bertujuan untuk memendirikan atau memberdayakan sekolah/madrasah melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada sekolah/madrasah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif. Secara lebih khusus MBS bertujuan unutuk:
1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah/madrasah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.
2. meningkatkan kepedulian warga sekolah/madrasah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.
3. meningkatkan tanggung jawab sekolah/madrasah kepada orang tua, masyarakat, dan pemerintah tentang mutu seklahnya
4. meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah/madrasah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai.
MBS juga bertujuan untuk mendirikan atau memberdyakan sekolah melalui pemberian kewenangan, keluwesan dan sumber daya untuk meningkatkan mutu sekolah. dengan diberikannya kesempatan kepada sekolah untuk mengambangkan kurikulum, guru didorong untuk berinovasi, dengan melakukan eksperimentasi-eksperimentasi di lingkunan sekolahnya.

C. KARAKTERISTIK SCHOOL BASED MANAGEMENT
MBS adalah bentuk reformasi pendidikan yang pada prinsipnya sekolah memperoleh kewajiban (responsibility), wewenang (authority), dan tanggungjawab (accountability) dalam meningkatkan kenerja sekolah. oleh sebab itu, MBS menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat sekolah. prinsip pemerataan (ekuality), keadilan (equity), untuk memperoleh kesempatan pendidikan, efisiensi dan mutu pembelajaran ,merupakan karakteristik utama MBS yang dimiliki oleh pendekatan ini. Dalam kaitan ini persyaratan utama adalah:
1. Adanya kebutuhan untuk berubah (send of change) atau inovasi
2. Adanya desain organisasi pendidikan
3. Proses perubahan sebagai proses belajar
4. adanya budaya profesional (corporate culture) di sekolah.

D. STRATEGI IMPLEMENTASI SCHOOL BASED MANAGEMENT
Implementasi MBS akan berlangsung secara efektif dan efisien apabila di dukung oleh sumber daya manusia yang profesional untuk mengoperasikan sekolah, dana yang cukup agar sekolah mampu menggaji staf sesui dengan fungsinya, sarana prasarana yang memamadai untuk mendukung proses belajar mengajar, serta dukungan masyarakat atau orang tua yang tinggi.
MBS dapat di implementasikan secara optimal, baik di era krisis maupun pada pasca krisis dimasa mendatang, perlu adanya pengelompokan sekolah berdasarkan tingkat kemampuan manajemen masing-masing. Pengelompokan ini dimaksudkan untuk mempermudah pihak-pihak terkait dalam memberikan dukungan.
1. Pengelompokan Sekolah
Dalam rangka mengimplementasikan MBS, perlu dilakukan pengelompokan sekolah berdasarkan kemampuan manajemen, dengan mempertimbangkan kondisi lokasi dan kualitas sekolah. dalam hal ini sedikitnya akan ditemui tiga kategori sekolah, yaitu baik, srdang, dan kurang, yang tersebar di lokasi-lokasi maju, sedang dan ketinggalan. Kelompok-kelompok sekolah tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.





KELOMPOK SEKOLAH DALAM MBS

Kemampuan
Sekolah Kepala sekolah dan Guru Partisipasi Masyarakat Pendapatan Daeran dan Orang tua Anggaran Sekolah
Sekolah dengan kemampuan manajemen tinggi Kepala sekolah dan guru berkompetensi(termasuk kepemimpinan) Partisipasi masyarakat tinggi(termasuk dukungan dana) Pendapatan daerah dan orang tua tinggi Anggaran sekolah diluar anggaran pemerintah besar
Sekolah dengan kemampuan manajemen sedang Kepala sekolah dan guru berkompetensi sedang (termasuk kepemimpinan) Partisipasi masyarakat sedang (termasuk dukungan dana) Pendapatan daerah dan orang tua sedang Anggaran sekolah diluar anggaran pemerintah sedang
Sekolah dengan kemampuan manajemen rendah Kepala sekolah dan guru berkompetensi rendah (termasuk kepemimpinan) Partisipasi masyarakat kurang (termasuk dukungan dana) Pendapatan daerah dan orang tua rendah Anggaran sekolah diluar anggaran pemerintah kecil atau tidak ada

Sumber : E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah. PT Remaja Rosdakarya : Bandung.



2. Pentahapan Implementasi MBS
Sebagai suatu paradigma pendidikan baru, selain perlu memperhatikan kondisi ssekolah, implementasi MBS juga memerlukan pentahapan yang tepat. Dengan perkataan lain harus dilakukan secara bertahap. Penerapan MBS secara menyeluruh sebagai realisasi desentralisasi pendidikan memerlukan perubahan-perubahan mendasar terhadap aspek-aspek yang menyangkut keuangan, ketenagaan, kurikulum, sarana dan prasarana, serta partisipasi masyarakat. Kompleksitas permasalahan permasalahan pendidikan di Indonesia, yang juga diidentifikasi secara rinci oleh BankDunia, akan mempengaruhi waktu pelaksanaan MBS. Dengan mempertimbangkan kompleksitas tersebut, MBS diyakini akan dapat dilaksanakan paling tidak melalui tiga tahap yaitu jangka pendek (tahun pertama sampai dengan tahun ketiga), jangka menengah (tahun keempat sampai dengan tahun keenam), dan jangka panjang (setelah tahun keenam).
3. Perangkat Implementasi MBS
Sekolah memerlukan pedoman-pedoman sebagai pendukung untuk menjamin terlaksananya pengelolaan MBS yang mengakomodasi kepentingan otonomi sekolah, kebijakan pemerintah, dan partisipasi masyarakat. Implementasi MBS memerlukan seperangkat peraturan dan pedoman-pedoman (giidelines) umum yang dapat dipakai sebagai pedoman dalam perencanaan, monitoring dan evaluasi, serta laporan pelaksanaan. Perangkat implementasi ini perlu diperkenalkan sejak awal, melalui [elatihan-pelatihan yang diselenggarakn sejak pelaksanaan jangka pendek.
Rencana sekolah merupakan salah satu perangkat terpenting dalam pengelolaan MBS. Rencana sekolah merupakan perencanaan sekolah untuk jangka waktu tertentu, yang di susun oleh sekolah sendiri bersama dewan sekolah. adapun yang dikandung rencana tersebut adalah visi dan misi sekolah, tuijuan sekolah, dan prioritas-prioritas yang akan dicapai, serta strategi-strategi untuk mencapainya. Dengan membaca rencana sekolah seseorang akan memiliki gambaran lengkap tentang suatu sekolah.

E. MANAGEMENT KOMPONEN-KOMPONEN SCHOOL
Hal yang paling penting dalam implementasi manajemen berbasis sekolah adalah manajemen terhadap komponen-komponen sekolah itu sendiri. Sedikitnya terdapat tujuh komponen sekolah yang harus dikelola dengan baik dalam rangka MBS, yaitu kurikulum dan program pengajaran, tenaga kependidikan, kesiswaan, keuangan, sarana dan prasarana pendidikan, pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat, serta manajemen pelayanan khusus lembaga pendidikan.
1. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran
Manajemen kurikulum dan program pengajaran merupakan bagian dari MBS.Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian kurikulum. Perencanaan dan pengembangan kurikulum nasional pada umumnya telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional pada tingkat pusat. Karena itu level sekolah yang paling penting adalah bagaimana merealisasikan dan menyesuaikan kurikulum tersebut dengan kegiatan pembelajaran. Disamping itu, sekolah juga bertugas dan berwewenang untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan setempat.
2. Manajemen Tenaga Kependidikan
Keberhasialan MBS sangat ditentukan oleh keberhasilan pimpinanya dalam mengelola tenaga kependidikan yang tersedia di sekolah. dalam hal ini peningkatan produktivitas dan prestasi kerja dapat dilakukan dengan meningkatkan prilaku manusia di tempat kerja melalui aplikasi konsep dan teknik manajemen personalia modern.
Manajemen tenaga kependidikan (guru dan personil) mancakup perencanaan pegawai, pengadaan pegawai, pembinaan dan pengembangan pegawai, promosi dan mutasi, pemberhentian pegawai, kompensasi dan penilaian pegawai. Semua itu perlu dilakukan dengan baik dan benar agar apa yang diharapkan tercapai, yakni tersedianya tenaga kependidikan yang diperlukan dengan kualifikasi dan kemampuan yang sesuai serta dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik dan berkualitas.
3. Manajemen Kesiswaan
Manajemen kesiswaan atau manajemen kemuridan (peserta didik) merupakan salah satu bidang operasional MBS.manajemen kesiswaan bertujuan untuk mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan agar kegitan pembelajaran di sekolah dapat berjalan lancar, tertib dan teratur, serta mencapai tujuan pendidikan sekolah. untuk mewujudkan tujuan tersebut, bidang manajemen kesiswaan sedikitnya memiliki tiga tugas utama yang harus diperhatikan, yaitu penerimaan murid baru, kegiatan kemajuan belajar, serta bimbingan dan pembinaan disiplin.
4. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan
Dalam penyelenggaraan pendidikan, keuangan dan pembiayaan merupakan potensi yang sangat menentukan dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kajian manajemen pendidikan. Komponen keungan dan pembiayaan pada suatu sekolah merupakan komponen produksi yang menentukan terlaksananya kegiatan proses belajar-mengajar di sekolah bersama komponen –komponen lain. Dengan kata lain setiap kegitan yang dilakukan sekolah memerlukan biaya, baik itu disadari maupun tidak disadari.komponen keuangan dan pembiayaan ini perlu dikelolasebaik-bainya, agar dana-dana yang ada dapt dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Hal ini penting, terutama dalam rangka MBS, yang memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mencari dan memanfaatkan berbagai sumber dana sesuai dengan keperluan masing-masing sekolah karena pada umumnya dunia pendidikan selalu dihadapkan pada masalah keterbatasan dana.


5. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan
Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan bertugas mengatur dan menjaga sarana dan prasarana pendidikan agar dapat memberikan kontribusi secara optimal dan berarti pada jalannya proses pendidikan. Kegiatan pengelolaan ini meliputi kegiatan perencanaan, pengadaan, pengawasan, penyimpanan inventarisasi, dan penghapusan seta penataan.
6. Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Hubungan sekolah dan masyarakat bertujuan antara lain untuk:
a. Memajukan kualitas pembelajaran, dan pertumbuhan anak
b. Memperkokoh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat
c. Menggairahkan masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sekolah.
Untuk merealisasikan tersebut, banyak cara yang bis adilakukan oleh sekolah dalm menarik simpati masyarakat terhadap sekolah dan menjalin hubungan yang harmonis antara sekolah masyarakat. Hal tersebut antara lain dapat dilakukan dengan menberitahu masyarakat mengenai program-program sekolah, baik program yang telah dilaksanakan yang sedang dilaksanakan, maupun yang akan dilaksanakan sehingga masyarakat mendapat gambaran yang jelas tentang sekolah yang bersangkutan.
7. Manajemen Layanan Khusus
Manajemen layanan khusus meliputi manajemen perpustakaan, kesehatan, dan keamanan sekolah. manajemen komponen-komponen tersebut merupakan bagian penting dari MBS yang efektif dan efesien.








BAB III
KESIMPULAN
School Based Management merupakan model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada kepala sekolah/madrasah dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya perbaikan kinerja sekolah yang mencakup guru, siswa, orangtua, dan masyarakat. School based management (MBS) bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah/madrasah melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada sekolah/madrasah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif.
Implementasi MBS akan berlangsung secara efektif dan efisien apabila di dukung oleh sumber daya manusia yang profesional, dana yang cukup, sarana prasarana yang memamadai, serta dukungan masyarakat atau orang tua yang tinggi.
Dalam melaksanakan MBS terdapat beberapa komponen yang harus di kelola dengan baik yaitu kurikulum dan program pengajaran, tenaga kependidikan, kesiswaan, keuangan, sarana dan prasarana pendidikan, pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat, serta manajemen pelayanan khusus lembaga pendidikan













DAFTAR PUSTAKA

Cotton, Kathleen. The Schooling Practices That Matter Most
Fattah, Nanang. 2004. Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Dewan Sekolah. Pustaka Bani Qurasy : Bandung.
Greene, Adam, Ebert. 1985. Management For Effective Performeance. Prentice-hall inc englewood cliffs : New Jersey.
Mulyasa,E. 2007. Manajemen Berbasis Sekolah. PT Remaja Rosdakarya : Bandung.
Syarifuddin. 2005. Pengelolaan Madrasah (Pendekatan Teoritis dan praktis). Pusat studi pesantren dan Madrasah (PSPM) : Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar